Novel Orang Orang Proyek Karya Ahmad Tohari

Kategori: Novel | 340 Kali Dilihat
Novel Orang Orang Proyek Karya Ahmad Tohari Reviewed by csbukuoriginal on . This Is Article About Novel Orang Orang Proyek Karya Ahmad Tohari

Jual Novel Orang Orang Proyek – Sinopsis Novel  : Aku insinyur. Aku tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Apakah yang pertama merupakan manifestasi yang kedua? Apakah kejujuran dan kesungguhan sejatinya adalah perkara biasa bagi masyarakat berbudaya, dan… Selengkapnya »

Rating: 1.0
Harga: Rp 65.000 Rp 60.000

Pemesanan Juga dapat melalui :
SKU :
Stok Tersedia
0.25 Kg
24-10-2019
Detail Produk "Novel Orang Orang Proyek Karya Ahmad Tohari"

Jual Novel Orang Orang Proyek – Sinopsis Novel  :

Aku insinyur. Aku tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Apakah yang pertama merupakan manifestasi yang kedua?

Apakah kejujuran dan kesungguhan sejatinya adalah perkara biasa bagi masyarakat berbudaya, dan harus dipilih karena keduanya merupakan hal yang niscaya untuk menghasilkan kemaslahatan bersama? Memahami proyek pembangunan jembatan di sebuah desa bagi Kabul, insinyur yang mantan aktivis kampus, sungguh suatu pekerjaan sekaligus beban psikologis yang berat. “Permainan” yang terjadi dalam proyek itu menuntut konsekuensi yang pelik. Mutu bangunan menjadi taruhannya, dan masyarakat kecillah yang akhirnya menjadi korban. Akankah Kabul bertahan pada idealismenya? Akankah jembatan baru itu mampu memenuhi dambaan lama penduduk setempat?

IDENTITAS NOVEL ORANG ORANG PROYEK
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 9786020320595
Halaman : 256
Jenis Cover : Soft Cover

Resensi / Review Novel Orang Orang Proyek :

Ahmad Tohari memiliki ciri khas yang selalu mengangkat kisah fiksinya dari kegelisahan masyarakat pada umumnya. Ketika kamu memilih membaca novel ini, Orang-orang Proyek, kamu akan terusik sendiri dengan pemikiran yang kamu miliki, membandingkan pemerintahan di era orde baru dan demokrasi. Bisa saja kamu berpikir, apakah sudah ada perubahan hingga sekarang?

Seperti adanya pengkotak-kotakan antara: bawah, menengah, dan atas. Rakyat biasa, swasta, pemerintah. Hak atas lelaki dan perempuan. Ternyata itu terjadi bukan karena mak bedunduk langsung ada, tetapi memang sudah dari dulu terdapat hierarki sendiri di masyarakat yang entah siapa yang memulainya. Seperti pada hierarki yang digambarkan Orwell pada tahun 1930-an, menurut Orwell semua itu tidak berguna. Untuk apa?

Tulisan George Orwell, tidak hanya di Indonesia saja yang memiliki masyarakat miskin, pada tahun 1930-an Inggris juga dikuasai oleh kaum Partai Bengis yang menginkan kekuasaan demi keserakahan. Meskipun di Indonesia hal tersebut terjadi dengan cara yang berbeda, tetapi sejak merdeka, Indonesia masih terus digerogoti virus pemerintah yang ‘rakus’.

Melalui buku Orang-orang Proyek inilah Ahmad Tohari menggambarkan kerakusan, dan bancaan itu dipaparkan dengan baik. Pengemasan yang dilakukan dengan novel fiksi, akan membuat kamu yang membacanya terlena karena disajikan dengan gaya bahasa yang mengalir nan sederhana tetapi sarat makna.

Mengambil kilas waktu tahun 1991, cerita ini terjadi, masa orde baru. Kejadiannya sebenarnya merupakan kegelisahan individu atas pekerjaannya.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Kabul. Lelaki berusia tiga puluh tahunan yang mendapatkan mandat menjadi bagian dari pembuat jembatan. Insinyur tersebut sudah tahu, untuk membuat jembatan yang sesuai standart mutu harus menggunakan bahan-bahan yang berkualitas. Tetapi, sadar akan adanya bancaan dari hal itu seperti; masyarakat awam yang ikut menggerogoti material jika ketahuan cukup menyogok mandor dengan rokok –mereka tidak merasa terbebani dengan itu, anggapan sudah wajar wong partai saja juga memanfaatkan adanya proyek jembatan, pihak masjid meminta bantuan, partai yang memenangkan tender proyek minta pembangunan diselesaikan secepatnya. Dana yang seharusnya 100% untuk membuat jembatan hampir 70% digerogoti. Para insinyur itu tahu, sebenarnya, tetapi karena mereka termakan kerakusan penguasa, ikutlah mereka dalam penggelembungan.

Kenapa mereka tahu begitu masih ikut-ikutan?

Ketika mereka tidak sadar mereka hidup foya-foya tetapi makanan yang mereka makan bukanlah hak mereka, tanggung jawab dipertanyakan. Padahal mereka adalah orang yang beragama.

Namun Kabul mencoba berani menolak ketika ada seorang marbot Masjid datang pada malam hari dengan membawa proposal –dan mengenakan jaket partai GLM, partai yang berkuasa, meminta bantuan berupa material dan uang tunai dari proyek itu untuk membangun masjid.

“Tapi nanti dulu. Karena kesuciannya, pembangunan sebuah masjid harus tertib dan pakai tata krama. Semua material di sini kan, dibeli untuk membangun jembatan, bukan lainnya. Jadi kalau ingin tertib, semua material di sini tidak boleh dipakai untuk tujuan lain, kecuali sisanya.”

Dari percakapan tersebut Kabul dituduh sebagai komunis karena dianggap tidak mau membantu pemerintah. Padahal proyek jembatan itukan tidak boleh disalahgunakan? Komunis nenek lu.

Keberanian Kabul membuat dia diancam akan diadukan ke partai dan dengan risiko pecat. Kabul bernafas lega waktu itu karena berani mengeluarkan suarnya. Sebab, dia dibesarkan dari keluarga yang: ora gumunan, ora kemaruk. Dia ingin menjadi insinyur yang bisa mempertanggung jawabkan amanat jembatan itu kepada rakyat. Sebenarnya yang membayar semua ini rakyat, tetapi uang mereka malah dijadikan ajang bancaan.

Mungkin hal tersebut di masa itu benar-benar terjadi, tidak hanya pada satu kasus saja. Belum lagi proyek lain, di bank-bank pemerintah, bulog, depag, kementerian dan masih banyak lagi.

Di ambang kesabaran Kabul akhirnya dia mengundurkan diri dari proyek ketika dari atasannya menyetok besi bekas untuk lantai. Kabul tercenung, tidak mungkin jembatan ini akan tahan lama. Padahal berdarsarkan UU bangunan itu harus bisa bertahan minimal sepuluh tahun. Muntab, Kabul mengundurkan diri, tidak mau dia hanya membangun asal-asal tanpa tanggung jawab.

Lucunya dua tahun kemudian ada kejadian yang membuat Kabul ngilu.

Membaca novel ini, akan membuat kamu berpikir, apakah ada perbedaan antara era demokrasi sekarang dan saat orde baru? Di masa itu terdapat feodalisme di tubuh partai, bahkan merongrong juga masyarakat desa yag tidak mau kalah memanfaatkan situasi.

“Mungki. Atau entahlah. Tapi agaknya mereka, masyarakat, terpaksa menerima perilaku edan sebagai hal biasa karena sudah menjadi hal keseharian yang terjadi di mana pun, kapan pun,” halaman 80

Kamu juga akan diberikan hiburan melalui sosok Tante Ana, orang-orang proyek, dan kepercayaan animisme tahun 1990-an.

Terakhir di review Orang-orang proyek kali ini, buku ini bagus dibaca, supaya kamu bisa memiliki referensi kuat tentang keadaan dulu, orde baru. Apakah ada bedanya dengan budaya bancaan di masa demokrasi?

SUMBER : https://kingkinkinamu.wordpress.com/

– jual novel orang orang proyek –

Tags: , , , , , ,

 
Chat via Whatsapp

Chat kami
1
Ada yang bisa dibantu?
Halo 👋
Ada yang bisa kami bantu?