Novel Six Of Crows Karya Leigh Bardugo

Kategori: Novel | 518 Kali Dilihat
Novel Six Of Crows Karya Leigh Bardugo Reviewed by csbukuoriginal on . This Is Article About Novel Six Of Crows Karya Leigh Bardugo

Jual Novel Six Of Crows – Sinopsis Novel  : Di Ketterdam, kota pelabuhan sekaligus pusat perdagangan antarnegara yang riuh, segalanya bisa didapat asalkan kita tahu berapa harga yang tepat. Tak ada yang mengamini pedoman tersebut melebihi Kaz Brekker, seorang bajingan ulung berjuluk Tangan Kotor. Kali ini, Kaz mendapatkan tawaran pekerjaan… Selengkapnya »

Rating: 1.0
Harga: Rp 140.000 Rp 130.000

Pemesanan Juga dapat melalui :
SKU :
Stok Tersedia
0.5 Kg
24-10-2019
Detail Produk "Novel Six Of Crows Karya Leigh Bardugo"

Jual Novel Six Of Crows – Sinopsis Novel  :

Di Ketterdam, kota pelabuhan sekaligus pusat perdagangan antarnegara yang riuh, segalanya bisa didapat asalkan kita tahu berapa harga yang tepat. Tak ada yang mengamini pedoman tersebut melebihi Kaz Brekker, seorang bajingan ulung berjuluk Tangan Kotor. Kali ini, Kaz mendapatkan tawaran pekerjaan gelap yang bisa berujung maut. Namun, upah selangit yang dijanjikan membuat Kaz bersedia menjalankannya—asalkan dia berhasil merekrut kru yang sesinting dirinya…

dan Kaz tahu benar siapa saja yang bisa dia andalkan.

Matthias, sang tawanan yang haus akan pembalasan dendam.

Jesper, sang penembak jitu yang kecanduan taruhan.

Wylan, sang juragan kecil yang kabur dari rumah.

Inej, sang mata-mata yang lihai mengendap-endap.

Nina, sang penyihir yang menjual keahliannya demi bertahan hidup.

Serta Kaz sendiri, sang pencuri yang selalu lolos dari jebakan apa pun.

Enam orang buangan yang berbahaya. Satu tugas rahasia yang mustahil. Namun, jika bekerja sama, mungkin saja mereka berhasil—asalkan semua berjalan sesuai rencana…

dan mereka tidak saling bunuh sebelum misi terlaksana.

Resensi / Review Novel Six Of Crows :

BUKU INI SUNGGUH MEMUKAU. PENUH DENGAN KEJUTAN YANG AKAN MEMBUATMU TIDAK BISA BERHENTI MEMBACA.

Sudah sejak lama saya ingin membaca Six of Crows duology. Namun saya menunggu ‘waktu yang tepat’, yaitu setelah Ujian Nasional saat saya menunggu kelulusan. Karena sering mendengar mengenai duology ini, saya tahu bahwa saya tidak akan bisa berhenti membalik halamannya dan akan terasa seperti naik roller coaster saat membacanya. Maka, setelah penantian yang cukup lama, di akhir bulan ini saya pun memutuskan untuk membaca Six of Crows. Dan benar saja, saya terjaga hingga larut malam membaca buku ini, berteriak di saat adegan-adegan yang menakjubkan, dan harus berhenti beberapa saat di beberapa bagian karena emosi saya tidak karuan.

Cerita dalam buku ini terjadi setelah Perang Sipil yang terjadi di Ravka dalam buku terakhir dari The Grisha Trilogy, Ruin and Rising. Saya sempat panik karena terlalu gembira melihat nama Nikolai disebut beberapa kali hehehe. Tidak perlu khawatir jika kalian belum membaca The Grisha Trilogy namun ingin langsung terjun dalam Six of Crows duology. Meski masih dalam dunia yang sama, yaitu Grishaverse, tokoh dan kisah dalam kedua seri berbeda jadi tidak masalah jika belum membaca salah satunya.

Dibanding dari karya sebelumnya, saya rasa Leigh Bardugo melakukan pekerjaan yang jauh lebih baik. Alur buku ini cepat, bahkan di bab 2 saya sudah dapat merasakan keseruannya. World-building Six of Crows sungguh memukau, saya merasa seperti berjalan di Ketterdam dan di gang-gang The Barrel. Plot disajikan dengan sangat baik, ketegangan dalam cerita dibangun sedemikian rupa hingga tiap saat yang berbahaya saya harus gigit jari.

“It’s not natural for women to fight.”
“It’s not natural for someone to be as stupid as he is tall, and yet there you stand.”

Ditulis dalam 5 sudut pandang orang ketiga, buku ini menyajikan cerita yang menarik dan unik serta dunia yang berbeda dan menantang. Masing-masing sudut pandang dari tiap tokoh ditulis dengan apik dan tidak membuang-buang waktu. Maksud saya, ada beberapa buku yang ditulis dalam banyak sudut pandang yang seringkali tidak menambah apapun ke dalam cerita. Namun tiap bab di Six of Crows, meski diceritakan dari sudut pandang tokoh yang berbeda, semakin membuat pembaca mengerti dan mampu mengetahui situasi yang dialami oleh tiap tokoh.

Gaya bahasa yang digunakan juga menghibur, tidak membuat saya bosan. Dialog antartokoh selalu saya nanti karena selalu berhasil mengocok perut. Dan yang saya perhatikan, Leigh Bardugo tidak mendikte pembaca dengan penjelasan yang tidak perlu. Banyak dialog yang ditulis tanpa banyak embel-embel ‘dia berkata’, ‘dia bertanya’, ‘dia menunjuk’, ‘dia menoleh’, dsb. Saya sangat lega saat mengetahui hal ini karena dengan begitu saya bisa berimajinasi dengan bebas. Meski begitu, ada bagian tertentu saat saya bingung siapa yang berbicara karena banyaknya tokoh dan banyaknya dialog yang tidak diberi penjelasan siapa yang berbicara. Namun hanya selang beberapa bab, saya sudah bisa membedakan tiap tokoh karena sifat mereka yang terpancar kuat.

Leigh Bardugo berhasil menciptakan tokoh-tokoh yang memukau.

Kaz Brekker; seorang pencuri ulung yang pandai membuat rencana untuk misinya. Karismatik, dingin, genius, arogan, kasar dan misterius. Kaz berhasil menarik perhatian saya hanya dengan membaca beberapa kalimat yang diutarakannya.
Inej Ghafa; seorang gadis yang memiliki bakat untuk menjadi tidak terlihat. Tertutup dan berani, Inej adalah seorang mata-mata yang ahli menyelusup dan menggali informasi.
Nina Zenik; seorang Hearthrender yang bekerja sebagai penenang. Ia dapat mengubah mood orang berkat kekuatan seorang Grisha yang dimilikinya. Baik hati, senang menggoda dan percaya diri, Nina adalah tokoh yang mudah disukai.
Matthias Helvar; lelaki Fjerdan yang ingin balas dendam dengan melakukan tugasnya sebagai seorang drÜskelle. Disiplin, tegas dan penuh hormat akan negaranya.
Jesper Fahey; seorang penembak jitu handal yang kecanduan berjudi. Humoris dan easy-going, Jesper menghibur saya dengan perkataannya yang jujur dan sarat akan sarkasme.
Wylan Van Eck; seorang lelaki yang kabur dari rumah karena tidak diakui oleh ayahnya. Lugu dan cerdik, Wylan ahli dalam merakit bom.
“Greed is your god, Kaz.”
He almost laughed at that. “No, Inej. Greed bows to me. It is my servant and my lever.”

Namun, entah mengapa saya kurang suka dengan endingnya. Bukannya buku ini ditutup dengan sangat terburu-buru (seperti Shadow and Bone) atau dengan adegan yang antiklimaks. Endingnya justru mengejutkan tetapi saya mengharapkan sesuatu yang lebih. Menjelang akhir, saya sudah bisa menebak bahwa saya tidak akan dibuat histeris dan tidak sabar membaca buku selanjutnya. Yaahh, mungkin hanya ekspektasi saya yang terlalu tinggi namun saya agak kecewa.

Overall, Six of Crows menyuguhkan cerita yang penuh kejutan, tokoh-tokoh yang menakjubkan, serta mampu menghadirkan dunia yang kelam namun menarik. Akhirnya saya bisa memahami kehebohan tentang buku ini, terutama Kaz Brekker hahaha. Sungguh menarik membaca buku fantasi yang berbeda dan saya menyukai seluruh tokohnya. Jika kalian bosan dengan konsep ayo-selamatkan-dunia-dan-menjadi-pahlawan, mencari buku yang kisahnya bikin nagih, tim dengan tokoh-tokoh yang menarik, saya sarankan untuk mencoba Six of Crows.

SUMBER : https://discoverelysian.wordpress.com/

– jual novel six of crows –

Tags: , , , , , ,

 
Chat via Whatsapp

Chat kami
1
Ada yang bisa dibantu?
Halo 👋
Ada yang bisa kami bantu?