Buku Si Anak Pemberani Karya Tere Liye

Kategori: Buku Tere Liye » bukuoriginal.com | 433 Kali Dilihat
Buku Si Anak Pemberani Karya Tere Liye Reviewed by csbukuoriginal on . This Is Article About Buku Si Anak Pemberani Karya Tere Liye

Jual Buku Si Anak Pemberani – Sinopsis Buku  : “Aku, Eliana si anak pemberani, anak sulung Bapak dan Mamak yang akan menjadi pembela kebenaran dan keadilan. Berdiri paling gagah, paling depan.” *** Buku ini tentang Eliana, si anak pemberani yang membela tanah, sungai, hutan, dan lembah kampungnya. Saat kerakusan dunia… Selengkapnya »

Rating: 1.0
Harga: Rp 83.000 Rp 80.000

Pemesanan Juga dapat melalui :
SKU :
Stok Tersedia
0.4 Kg
09-05-2019
Detail Produk "Buku Si Anak Pemberani Karya Tere Liye"

Jual Buku Si Anak Pemberani – Sinopsis Buku  :

“Aku, Eliana si anak pemberani, anak sulung Bapak dan Mamak yang akan menjadi pembela kebenaran dan keadilan. Berdiri paling gagah, paling depan.”

***

Buku ini tentang Eliana, si anak pemberani yang membela tanah, sungai, hutan, dan lembah kampungnya. Saat kerakusan dunia datang, Eliana bersama teman karibnya bahu-membahu melakukan perlawanan.

Dari puluhan buku Tere Liye, serial buku ini adalah mahkotanya.

SI ANAK PEMBERANI
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
ISBN : 9786025734526
Ketebalan : 426 halaman
Ukuran : 13.5 x 20.5 cm
Sampul : Soft cover

Review Buku :

Eliana ,.si sulung yang pemberani..
Buku ini adalah buku ke-empat dari serial anak-anak mamak, tetapi di terbitkan yang pertama dari buku yang lainnya (Pukat, Burlian & Amelia)…

Percakapan Eliana dan Wak Yati membuatku benar – benar tersentuh.

“Jangan pernah membenci Mamak kau, Eliana. Karena kalau kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang Ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian.

“Maksud Wawak, pernahkah kau memperhatikan, bukankah Mamak kau orang terakhir yang bergabung di meja makan? Bukankah Mamak kau orang terakhir yang menyendok sisa gulai atau sayur? Bukankah mamak kau yang kehabisan makanan di piring? Bukankah Mamak yang terakhir kali tidur? Baru tidur setelah memastikan kalian semua telah tidur? Bukankah Mamak yang terakhir kali beranjak istirahat? Setelah kalian semua istirahat? Bukankah Mamak kau selalu yang terakhir dalam setiap urusan.”

“Dan Mamak kau juga yang selalu pertama dalam urusan lainnya. Dia yang yang pertama bangun, dia yang pertama membereskan rumah, dia yang pertama kali mencuci, mengelap, mengepel, dia yang pertama kali ada saat kalian terluka, menangis, sakit. Dia yang pertama kali memastikan kalian baik-baik saja. Mamak kau yang selalu pertama dalam urusan itu, Amel. Tidak pernahkah kau memperhatikannya?”

Aku terdiam, memeluk bantal erat-erat. Separuh hatiku membantah semua kalimat Wak Yati, tetapi separuh hatiku yang lain mulai berpikir. Aku menelan ludah, benar, bukankah selama ini Mamak adalah orang terakhir yang bergabung ke meja makan? Orang terakhir yang makan? Padahal dia yang memasak semuanya, dia yang menghidangkan semua masakan?

“Camkan itu, Eli. Pikirkan baik-baik. Maka semoga kau paham, tidak pernah ada Ibu yang membenci anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri. Kau saja yang salah paham. Aku dulu juga menyesal, aku tidak pernah memperhatikan, aku hanya tahu, melihat dan mendengar.” Wak Yati menyentuh lembut bahuku, tersenyum.

Aku tetap diam.

“Nah, schat, pesan terakhirku, dua jam lagi persis tengah malam, aku seharusnya tidak bilang ini, tetapi tidak apalah, terkadang kita membutuhkan melihat langsung untuk mengerti hakikat sebuah kasih-sayang. Jika kau mengantuk, tahan kantuk kau. Berusahalah untuk tidak tidur. Dua jam lagi, saat tengah malam tiba, jika kau mendengar ada suara percakapan di luar kamarmu, pura-puralah sudah tertidur, maka kau akan melihat sendiri bukti kalimatku sebelumnya. Ibu selalu orang terakhir yang tidur di keluarga kita. Kau mengerti?”

Aku justeru menatap Wak Yati tidak mengerti.

Wak Yati tersenyum, beranjak meninggalkanku.

Ternyata Ibu-nya Eliana datang ke rumah Wak Yati dan mengucapkan terima kasih karena telah mengurus Eliana. Sayup-sayup Eliana mendengar percakapan tersebut. Saat Ibunya masuk dan membenarkan letak selimut Eliana yang sedang berpura – pura tidur. Eliana tidak dapat kuasa menahan tangis dan rasa penyesalannya…..

Beberapa petikan kata-kata yang ada di dalam novel Eliana :

“… pengetahuan itu tidak berhenti hanya tahu saja. Pengetahuan itu seharusnya memberikan pencerahan, PEMAHAMAN bahwa kita harus menjaga kehidupan.”

(Ali Rachmat , Goodreads Indonesia)

– jual buku si anak pemberani –

Tags: , , , ,

 
Chat via Whatsapp

Chat kami
1
Ada yang bisa dibantu?
Halo 👋
Ada yang bisa kami bantu?